Tumpek Landep

  • 24 Januari 2017
TUMPEK LANDEP

Tumpek Landep yang diperingati setiap enam bulan memiliki makna penyucian semua sanjata yang mendukung kehidupan manusia. Dalam hal ini sanjata tidak hanya diartikan sebagai: tombak, keris, panah, kapak dan lain-lain, namun semua alat-alat yang mendukung kehidupan manusia, termasuk fasilitas dan layanan infrastruktur dan transportasi.

Dalam perayaannya di masyarakat, Tumpek Landep memiliki makna sebagai pemurnian spiritual dan peningkatan rohani yang pikiran dan hati. Melalui pemurnian manusia diharapkan memiliki ketajaman pikiran setajam senjata dan kemurnian air salju yang jelas, sehingga apa yang dikatakan dan dilakukan berdampak pada sensitivitas dan komitmen penuh untuk semua ciptaan Sang Hyang Widhi. Sehingga ketajaman dalam berpikir yang menyertai kata melakukan etika harus sesuai dengan ajaran Hindu Dharma. Tumpek Landep mengajarkan manusia untuk selalu merawat dan menjaga semua peralatan dan fasilitas yang mendukung kehidupan manusia, untuk dapat menangani pembangunan modernisasi cepat, tepat dan akurat.

Tumpek Landep adalah pendekatan proses untuk Tuhan untuk mengasah ilmu untuk mencapai kesadaran sejati. Dalam pelaksanaan saat ini, perayaan Tumpek Landep oleh generasi muda dapat dilakukan dengan studi mereka setinggi untuk masa depan, tidak melakukan hal-hal yang negatif.

Filosofi Tumpek Landep

Dalam Tumpek Landep, Landep yang diartikan tajam mempunyai filosofi yang berarti bahwa  Tumpek Landep merupakan tonggak penajaman, citta, budhi dan manah (pikiran). Dengan demikian umat selalu berperilaku berdasarkan kejernihan pikiran dengan landasan nilai – nilai agama. Dengan pikiran yang suci, umat mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Tumpek landep merupakan tonggak untuk mulat sarira / introspeksi diri untuk memperbaiki karakter agar sesuai dengan ajaran – ajaran agama. Pada rerainan tumpek landep hendaknya umat melakukan persembahyangan di sanggah/ merajan serta di pura, memohon wara nugraha kepada Ida Bhatara Sang Hyang Siwa Pasupati agar diberi ketajaman pikiran sehingga dapat menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Pada rerainan tumpek landep juga dilakukan pembersihan dan penyucian pusaka warisan leluhur.

Menurut Dharma Wacana dari Ida Pedanda Gede Made Gunung, Jika menilik pada makna rerainan, sesungguhnya upacara terhadap motor, mobil ataupun peralatan kerja lebih tepat dilaksanakan pada Tumpek Kuningan, yaitu sebagai ucapan syukur atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas sarana dan prasara sehingga memudahkan aktifitas umat, serta memohon agar perabotan tersebut dapat berfungsi dengan baik dan tidak mencelakakan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pada Rahina Tumpek Landep hal yang paling utama yang tidak boleh dilupakan adalah hendaknya kita selalu ingat untuk mengasah pikiran (manah), budhi dan citta. Dengan manah, budhi dan citta yang tajam diharapkan kita dapat memerangi kebodohan, kegelapan dan kesengsaraan serta mampu menekan perilaku buthakala yang ada di dalam diri.

  • 24 Januari 2017

Artikel Lainnya

Cari Artikel